Minat Wisatawan Mulai Bergeser ke Destinasi yang Lebih Tenang dari Destinasi Populer
Last updated: 24 Jun 2026
34 Views

Pola perjalanan wisatawan global saat ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Wisatawan semakin menyadari dampak negatif dari fenomena overtourism dan mulai mengadopsi kebiasaan perjalanan yang lebih bertanggung jawab. Sebagian wisatawan menyatakan bahwa overtourism menurunkan kualitas liburan mereka, sehingga mendorong munculnya preferensi baru terhadap perjalanan yang lebih nyaman, lebih tenang, dan lebih berkelanjutan. Keputusan bepergian tidak lagi semata-mata ditentukan oleh popularitas suatu tempat, tetapi juga oleh pengalaman yang ingin dirasakan wisatawan selama berada di destinasi tersebut.

Photo by olga oshkalo
Sebagian wisatawan tidak sepenuhnya meninggalkan destinasi populer, melainkan mengatasinya dengan menyesuaikan waktu kunjungan. Pergeseran perjalanan dapat dilihat pada peningkatan perjalanan dibulan juni dan oktober di kawasan Asia Pasifik dan Eropa, serta hampir semua pasar dengan penurunan perjalanan di bulan agustus. Perubahan perilaku wisatawan tidak hanya terkait pemilihan destinasi dan waktu, tetapi juga cara mereka berinteraksi dengan komunitas lokal. wisatawan semakin terbuka terhadap perjalanan di luar musim puncak atau shoulder season, baik untuk menghindari keramaian maupun untuk memperoleh pengalaman yang lebih nyaman. Cuaca ekstrem juga mulai menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan perjalanan.

Photo by KK
Perubahan perilaku wisatawan tidak hanya tercermin dalam pemilihan destinasi dan waktu perjalanan, tetapi juga dalam cara mereka berinteraksi dengan komunitas lokal. Wisatawan, khususnya dari generasi Z dan Milenial, mulai menunjukkan minat yang lebih besar terhadap pengalaman yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Hampir seperempat dari kelompok ini tercatat telah berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung konservasi ekosistem atau satwa liar lokal.

Photo by Dua'a Al-Amad
Dalam hal akomodasi, beberapa wisatawan berencana menginap di hotel atau akomodasi yang memiliki sertifikasi keberlanjutan dalam 12 bulan ke depan. Wisatawan tidak hanya sadar akan isu kepadatan dan keberlanjutan, tetapi juga mulai mengubah perilaku perjalanan mereka secara nyata mulai dari pemilihan destinasi, penentuan waktu kunjungan, hingga cara berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan setempat.
Related Content

Akmal Maulana Purwanto


Sikha Rembulan Janna