Share

Gila! Tarif Hotel di Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Melonjak hingga Ratusan Persen

Last updated: 10 Jul 2026
24 Views
Tarif hotel di kota-kota tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 mengalami lonjakan signifikan menjelang turnamen. Ajang terbesar sepanjang sejarah ini melibatkan 48 negara peserta dan berlangsung di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Antusiasme penonton dari berbagai belahan dunia tidak hanya meningkatkan penjualan tiket pertandingan, tetapi juga mendorong kenaikan harga akomodasi.
 
Salah satu faktor utama lonjakan tarif hotel adalah penerapan dynamic pricing, yaitu sistem penetapan harga berdasarkan tingkat permintaan, sehingga menjelang turnamen banyak hotel menaikkan tarif kamar untuk mengoptimalkan pendapatan. Guadalajara di Meksiko mencatat kenaikan tertinggi hingga 468%, dari tarif normal sekitar $90 (Rp1,4 juta) menjadi $511 (Rp8,3 juta) per malam, sementara Mexico City mengalami lonjakan 252% dengan rata-rata $595 (Rp9,7 juta) per malam. Vancouver di Kanada bahkan mencatat kenaikan tarif hotel tertinggi di antara 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026, dengan lonjakan mencapai 290% dari rata-rata $315 menjadi $1,229 per malam, didorong oleh keterbatasan pasokan hotel dan aturan ketat sewa jangka pendek.
 
Kondisi berbeda terjadi di sejumlah kota Amerika Serikat seperti New York, Boston, Philadelphia, dan San Francisco, di mana hotel mulai menurunkan kembali tarif kamar karena tingkat pemesanan tidak setinggi yang diperkirakan. Sebagian kota berusaha menarik lebih banyak tamu menjelang dimulainya turnamen, meskipun sebelumnya sempat menaikkan harga secara agresif. Hal yang menjadi pertimbangan utama wisatawan internasional dalam memilih destinasi meliputi harga tiket pertandingan, biaya transportasi, serta proses visa, sehingga faktor-faktor tersebut berperan besar dalam menentukan lokasi untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.

Related Content
Website ini menggunakan kukis untuk pengalaman terbaik Anda, informasi lebih lanjut silakan kunjungi Kebijakan Privasi and Kebijakan Kukis